Menuntun Orang Sakaratul Maut Sesuai Sunnah, Menghadirkan Ketenangan di Detik-Detik Terakhir
![]() |
| Illustrasi Seorang pria Muslim mentalqin (menuntun) seorang lansia wanita yang sedang sakaratul maut di tempat tidur, didampingi seorang wanita yang berdoa. |
Warta Rakyat - Detik-detik menjelang ajal menjemput merupakan salah satu fase paling krusial dan sakral dalam perjalanan hidup seorang manusia. Di saat-saat kritis tersebut, kehadiran keluarga dan kerabat terdekat bukan hanya sekadar pendamping fisik, melainkan jembatan spiritual yang sangat menentukan akhir perjalanan hidup seseorang menuju husnul khatimah (akhir yang baik).
Dalam ajaran Islam, proses mendampingi dan membimbing seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut diatur secara terperinci. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa proses transisi menuju akhirat tersebut berlangsung dengan penuh kedamaian dan sesuai tuntunan syariat.
Memahami Esensi 'Talqin'
Menuntun orang yang sedang sakaratul maut dalam istilah fikih dikenal dengan sebutan talqin. Aktivitas ini secara esensial berarti mengingatkan atau membimbing dengan lembut orang yang sedang sekarat untuk mengucapkan kalimat tauhid.
Tujuan utama dari talqin adalah agar kalimat terakhir yang terucap dari lisan seseorang sebelum mengembuskan napas terakhir adalah kalimat pengesaan Allah. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah SAW:
"Tuntunlah orang-orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat Laa ilaaha illallah." (HR. Muslim)
Tanggung jawab melakukan talqin ini berada di pundak siapa saja yang hadir di sisi orang yang bersangkutan, terutama pihak keluarga terdekat. Pelaksanaannya tidak mutlak memerlukan kehadiran seorang tokoh agama atau ustaz; setiap Muslim yang hadir dengan kondisi tenang dan ikhlas dapat menunaikan amanah mulia ini.
Langkah Praktis Menuntun Sesuai Sunnah
Untuk menghadirkan suasana yang tenang dan khusyuk, terdapat beberapa langkah praktis yang dianjurkan oleh para ulama berdasarkan hadis-hadis sahih:
- Mengatur Posisi Tubuh: Jika memungkinkan dan tidak memperberat kondisi fisik yang bersangkutan, posisikan tubuhnya menghadap ke arah kiblat. Posisi ini bisa berupa berbaring miring ke kanan atau telentang dengan bagian kepala sedikit ditinggikan agar wajahnya menghadap kiblat.
- Membisikkan Kalimat Tauhid: Bisikkan kalimat Laa ilaaha illallaah secara perlahan dan jelas di dekat telinganya. Lakukan dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang, bukan dengan nada mendikte atau memaksa. Cukup perdengarkan kalimat tersebut sekali atau dua kali, lalu tunggu. Jika ia sudah mengucapkannya, jangan mengulanginya lagi kecuali ia kembali membicarakan hal-hal duniawi.
- Membaca Surah Yasin: Dianjurkan pula untuk membacakan Surah Yasin di dekatnya guna memberikan ketenangan jiwa dan meringankan beratnya proses pelepasan ruh.
- Melantunkan Doa Kebaikan: Perbanyaklah memanjatkan doa-doa kebaikan di sekelilingnya, karena pada momen tersebut para malaikat hadir dan mengaminkan setiap ucapan yang keluar dari lisan orang-orang yang mendampingi.
Hal-Hal yang Wajib Dihindari
Sering kali, karena rasa sedih yang mendalam, keluarga terdekat melakukan hal-hal yang justru dapat mengganggu konsentrasi dan ketenangan batin orang yang sedang sekarat. Beberapa hal yang sebaiknya dihindari antara lain:
- Menangis Histeris di Dekatnya: Kesedihan adalah hal yang manusiawi, namun menangis dengan suara keras (niyahah) di sisi orang yang sedang sakaratul maut dapat menambah beban psikologis dan batinnya.
- Memaksa Berulang-kali: Menekan orang yang sedang sekarat untuk terus-menerus melafalkan kalimat syahadat dengan nada tinggi justru berisiko membuatnya merasa terbebani atau bahkan merasa kesal di akhir hayatnya.
- Membahas Urusan Duniawi: Sangat tidak etis membicarakan perkara dunia, seperti pembagian harta warisan atau urusan rumah tangga, di hadapan orang yang sedang berjuang menghadapi maut.
- Kondisi Ruangan yang Terlalu Ramai: Batasi jumlah orang yang berada di dalam ruangan agar sirkulasi udara tetap baik dan suasana tetap kondusif serta tenang.
- Mendampingi keluarga yang sedang sakaratul maut memang bukan perkara yang mudah. Diperlukan keteguhan hati, keikhlasan yang lapang, serta pemahaman ibadah yang benar agar kita dapat mempersembahkan baktian terbaik bagi orang-orang tercinta di ujung napas mereka. (Ed: Ruk)
