Sempat Diduga Kedaluwarsa Susu MBG karena Salah Baca Kode Produksi, Guru SDN Tugusari 06 Meminta Maaf
![]() |
| Nanik (tengah) saat Klarifikasi Meminta maaf |
Jember, WARTA RAKYAT.com - Niat seorang guru SDN Tugusari 06 untuk memastikan keamanan makanan dan minuman dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa berujung pada kesalahpahaman terkait kode produksi pada kemasan susu.
Sebelumnya, beredar video yang memperlihatkan kemasan susu dalam menu MBG. Kemasan tersebut sempat diduga menunjukkan produk yang telah kedaluwarsa. Namun, setelah dilakukan klarifikasi bersama, dugaan tersebut ternyata muncul akibat kekeliruan dalam membaca kode pada kemasan.
Klarifikasi berlangsung di SPPG Tugusari 02, Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Pertemuan tersebut dihadiri pihak SPPG, PIC mitra, Babinsa Tugusari, kepala sekolah, perwakilan K3S serta perwakilan media.
Dalam pertemuan itu, guru yang bersangkutan menjelaskan bahwa video dibuat sebagai bentuk kehati-hatian untuk memastikan makanan dan minuman yang diterima siswa berada dalam kondisi baik dan layak dikonsumsi.
Namun, saat melihat kode pada kemasan susu, ia semula mengira angka tersebut merupakan tahun produksi 2021. Setelah mendapatkan penjelasan, diketahui bahwa tulisan 2D21 pada kemasan merupakan kode produksi, bukan penanda tahun pembuatan 2021.
Atas kekeliruan tersebut, guru yang bersangkutan menyampaikan permohonan maaf kepada pihak SPPG Tugusari 02.
“Saya meminta maaf kepada pihak SPPG Tugusari 02 atas kesalahan saya dalam membaca dan mengartikan kode produksi pada kemasan susu. Saya mengira kode tersebut menunjukkan tahun 2021, padahal setelah dijelaskan ternyata itu merupakan kode produksi 2D21,” ungkapnya saat klarifikasi.
Ia menegaskan tidak ada maksud untuk merugikan maupun menjatuhkan pihak SPPG.
Menurutnya, video tersebut dibuat semata-mata karena adanya kekhawatiran terhadap kondisi makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh para siswa.
“Tidak ada maksud untuk merugikan atau menjatuhkan pihak SPPG. Saya hanya ingin memastikan makanan dan minuman yang diterima anak-anak dalam keadaan baik. Atas kesalahan membaca kode tersebut, saya menyampaikan permohonan maaf,” lanjutnya.
Persoalan tersebut kemudian diluruskan melalui pertemuan bersama. Dalam surat pernyataan tertanggal 28 Agustus 2026, permohonan maaf juga disebut disampaikan atas kesadaran sendiri dan tanpa adanya paksaan maupun tekanan dari pihak mana pun.
Kejadian ini menjadi pembelajaran penting bahwa informasi terkait keamanan produk, khususnya makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa, perlu diperiksa secara teliti sebelum disimpulkan maupun disebarluaskan.
Di sisi lain, langkah guru untuk memastikan kondisi makanan dan minuman yang diterima siswa juga menunjukkan adanya perhatian terhadap keamanan konsumsi peserta didik.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, persoalan yang semula muncul sebagai dugaan susu kedaluwarsa akhirnya dapat diluruskan. Kesalahpahaman diketahui terjadi karena kekeliruan dalam membaca kode produksi pada kemasan.
