Starlink Diduga Dipakai Hacker Iran untuk Menyerang Infrastruktur Israel
![]() |
| Ilustrasi hacker yang memanfaatkan teknologi untuk menyerang sistem digital |
Warta Rakyat – Kelompok peretas asal Iran yang dikenal dengan nama Handala diduga memanfaatkan layanan internet satelit Starlink milik perusahaan Amerika Serikat untuk menjaga konektivitas mereka saat melancarkan serangan siber terhadap negara-negara Barat, termasuk Israel.
Temuan ini diungkap sejumlah pakar keamanan siber yang menilai penggunaan teknologi komunikasi milik perusahaan AS oleh kelompok yang diduga berafiliasi dengan pemerintah Iran berpotensi memicu persoalan hukum dan keamanan internasional.
Kelompok hacker Handala dilaporkan tetap aktif melakukan operasi siber dengan memanfaatkan koneksi internet dari Starlink. Para pakar menyebut kelompok tersebut merupakan salah satu unit peretas paling aktif yang digunakan oleh rezim Iran dan diduga beroperasi di bawah arahan Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS).
Handala diketahui kerap menyamar sebagai kelompok aktivis digital atau hacktivist, meskipun sejumlah analis keamanan menilai aktivitasnya berkaitan dengan operasi siber negara.
Menurut analisis perusahaan keamanan siber Check Point, kelompok tersebut telah menggunakan jaringan Starlink setidaknya sejak pertengahan Januari 2026. Penggunaan teknologi tersebut terjadi ketika pemerintah Iran melakukan pembatasan internet nasional di tengah ketegangan politik dan konflik regional.
Melalui jaringan satelit itu, para peretas tetap dapat mengakses internet global meskipun jaringan domestik Iran mengalami pemadaman.
Starlink sebenarnya dilarang beroperasi di Iran karena sanksi Amerika Serikat dan pembatasan dari pemerintah setempat. Namun, perangkat terminalnya diduga masuk ke negara tersebut melalui pasar gelap.
Organisasi Holistic Resilience memperkirakan terdapat sekitar 30.000 terminal Starlink ilegal yang beroperasi di Iran, sebagian besar digunakan masyarakat untuk mengakses internet bebas sensor.
Ironisnya, akses terbuka tersebut juga dimanfaatkan oleh kelompok anti-Amerika seperti Handala untuk melakukan operasi siber.
Dengan memanfaatkan koneksi satelit tersebut, Handala diduga melakukan berbagai serangan digital dan kampanye propaganda melalui platform media sosial. Kelompok ini bahkan mengklaim telah meretas data pribadi sejumlah pejabat Israel dan menyerang infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
Pakar keamanan siber Gil Messing menyebut Handala sebagai kelompok peretas paling terkenal yang digunakan rezim Iran. Ia juga mengaku telah melaporkan penggunaan Starlink oleh kelompok tersebut kepada pihak penyedia layanan, namun belum mendapat tanggapan resmi.
Hingga kini perusahaan SpaceX sebagai pengembang Starlink maupun platform X milik Elon Musk belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Mantan staf intelijen Israel yang kini menjadi CEO perusahaan keamanan siber Zafran, Sanaz Yashar, menilai serangan militer tidak cukup efektif untuk menghentikan operasi siber seperti yang dilakukan kelompok tersebut. Menurutnya, serangan fisik hanya akan memberikan gangguan sementara karena kelompok peretas dapat kembali beroperasi dengan cepat.
Starlink selama ini dikenal menyediakan akses internet di wilayah konflik untuk menjaga arus informasi tetap terbuka. Namun kasus di Iran menunjukkan bahwa teknologi tersebut juga berpotensi dimanfaatkan oleh aktor negara atau kelompok yang memiliki agenda geopolitik tertentu.
Situasi ini menimbulkan dilema baru bagi penyedia teknologi global, di satu sisi mendukung kebebasan informasi, tetapi di sisi lain membuka peluang penyalahgunaan untuk operasi siber lintas negara.
(Sumber: Forbes/Ed: Ruk)
