Dari Kanvas ke Laboratorium, Raisha Riandra Raih Gold Medal IYSA 2026, Buktikan Seni dan Sains Bisa Berjalan Bersama
![]() |
| Aphrodita Raisha Putri Riandra saat Menunjukkan produknya |
Semarang, WARTA RAKYAT.com – Perjalanan prestasi Aphrodita Raisha Putri Riandra atau yang akrab disapa Raisha Riandra menunjukkan bahwa kreativitas tidak memiliki batas. Dikenal sejak kecil sebagai seniman muda yang aktif mengikuti berbagai pameran dan kompetisi, Raisha kini membuktikan kemampuannya di dunia penelitian.
Bersama Team Phoenix, Raisha berhasil meraih Gold Medal dalam ajang Indonesia International Invention Expo (IYSA) 2026, kategori Life Science. Prestasi tersebut diraih melalui inovasi penelitian yang mengangkat potensi tanaman lokal sebagai bahan alternatif untuk kesehatan.
Penelitian yang dikembangkan timnya berjudul “PHOENIX: Pemanfaatan Paederia foetida dan Syzygium myrtifolium sebagai Salep Phyto-Herbal Antiinflamasi dan Antijamur untuk Eksim.”
Dalam penelitian tersebut, tanaman simbukan (Paederia foetida) dan pucuk merah (Syzygium myrtifolium) dikaji dan dikembangkan menjadi bahan salep phyto-herbal yang ditujukan untuk membantu mengatasi peradangan serta infeksi jamur pada eksim.
Kompetisi dan rangkaian kegiatan IYSA 2026 berlangsung di Semarang pada 24 Agustus hingga 3 September 2026. Raihan medali emas menjadi pencapaian tersendiri bagi Raisha sekaligus Team Phoenix dalam mengembangkan inovasi berbasis sumber daya lokal.
Sebelum terjun ke dunia riset, Raisha telah lebih dahulu aktif di bidang seni. Sejak usia dini, ia mengikuti berbagai pameran, lomba melukis, hingga kompetisi seni tingkat nasional dan internasional.
“Sejak kecil Raisha memang aktif di dunia seni. Dia sering ikut pameran, lomba melukis, dan beberapa kali mendapatkan penghargaan di event internasional,” ujar pembinanya.
Tidak berhenti di seni dan penelitian, Raisha juga mulai menekuni olahraga basket. Tiga bidang yang digelutinya tersebut justru menjadi pengalaman yang saling melengkapi.
Menurut Raisha, seni mengajarkan dirinya untuk berpikir kreatif dan memperhatikan detail. Sementara basket mengajarkan pentingnya kerja sama dan kekompakan. Adapun dunia penelitian menuntut ketekunan, ketelitian, serta keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
“Dari kanvas aku belajar melihat detail. Dari basket aku belajar kompak. Dari lab aku belajar bermanfaat untuk orang lain,” kata Raisha.
Prestasi Raisha bersama Team Phoenix menjadi gambaran bahwa dunia seni, olahraga, dan sains bukanlah bidang yang harus dipisahkan. Ketiganya justru dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas, karakter, kerja sama, dan inovasi.
Dari sebuah kanvas hingga laboratorium penelitian, Raisha Riandra terus menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia mampu berkarya di berbagai bidang dan membawa inovasinya hingga ke panggung prestasi internasional.
